Follow Us @nadiahasyir


Saturday, December 27, 2025

Kata Mereka Tentang Ibu yang Bekerja dari Rumah

10:24 PM
Sudah hampir 10 tahun sejak pertama kali memutuskan membuat konten dan menjadi konten kreator sebagai media pertunjukan hasil karya dan mendapatkan penghasilan melalui online. Keputusan menjadi ibu di rumah dan bekerja dari rumah aku pilih dengan mantap setelah melalui malam demi malam diskusi tentang pro and cons, resiko, dan pertimbangan lainnya dengan pasangan. Satu diantara tantangan yang kemungkinan besar akan datang, dan ternyata benar-benar datang, adalah.. Sesibuk apapun kita sebagai ibu yang bekerja di rumah, for some people, they see us "nganggur". Kalo ngga berangkat ke kantor, pakai seragam rapi, mereka pikir waktumu akan selalu available untuk "disisipi". Padahal kantor kita di salah satu space dalam rumah ya kan, mom? hehe. 

Suka tidak suka, it's an ugly truth.


Sebelumnya nggak pernah ngerasa capek atau mengeluh tentang pendapat orang lain. Karena secara sadar paham betul kalau yang menjalani adalah kita, yang paling paham adalah kita, dan yang tahu ini worth untuk dipertahankan adalah diri kita sendiri. Tapi 10 tahun itu bukan waktu yang singkat, terlebih belum juga sama suksesnya seperti influencer yang lalu lalang di billboard, yang diundang ke event besar hampir tiap bulan sebagai guess star.

Hari ini, perempuan si paling kuat mental, si paling paham ketersinggungan itu bisa dipilih mau diambil atau tidak, akhirnya dia mengambil ketersinggungan itu. Aku menamakan ini bukan kekalahan, namun kelelahan. Sebagai manusia, ada waktu dimana energi kita terbatas, terkuras, dan perlu waktu untuk mengisi daya. Saat daya itu kosong, saat belum benar-benar terisi, kemungkinan untuk "oleng kapten" itu selalu ada.

Aku percaya, seringkali seseorang itu mengucapkan atau berbuat sesuatu terhadap orang lain atau terhadap komunitas, tujuannya belum tentu sengaja untuk menyerang atau melukai, namun kita bisa menilai munculnya "rasa diserang" itu setelah sudah terjadi. Mungkin maksudnya nggak gitu, tapi ternyata penerimaannya jadi gitu. Again, bukan berarti si penerima pesan ini yang baperan atau always feeling sensitive. Tapi, ada yang namanya "hari sial", dan hari sial itu nggak ada di kalender.

Sebagai pekerja lepas atau freelancer, kami memang tidak punya atasan, tapi kami punya klien yang harus dilayani dengan sepenuh hati dan jiwa. Kami pekerja lepas yang bekerja dari rumah, juga sama seperti mereka yang bekerja di kantor, punya deadline, punya tanggung jawab yang harus dipenuhi, dan perlu waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab yang dipunya.

Pada kondisi ideal, bekerja di kantor memberikan space dan batasan untuk bisa fokus bekerja. Namun bagi kami ibu yang bekerja di rumah, batas antara aktivitas domestik, aktivitas parenting dan mengurus anak, sangat transparan dan hampir tidak ada dengan aktivitas bekerja. Bekerja dari rumah seperti menjadi win-win solution untuk tetap bisa menjalankan multi-peran sebagai ibu, istri, dan diri sendiri. Namun ternyata struggle tidak ada space dan batasan justru menjadi kendala paling utama.

Yang menyedihkan adalah, disaat kami ibu yang bekerja dari rumah merasa exhausted, perlu istirahat sejenak, orang lain selain pasangan, tidak memahami itu. Seperti yang aku bilang di awal tadi, orang lain yang melihat, di rumah ya artinya nggak ngapa-ngapain, punya banyak waktu luang, punya waktu yang bisa diselip atau disisipi sewaktu-waktu dan sesuka hati, kan adjustable? kan nggak terpaku atasan? ya kan ada klien yang menunggu, ya kan ada reputasi dan dedikasi yang perlu dijaga untuk berbagi update terbaru, konten terbaru untuk muncul di permukaan buat bagian dari kerja, hehe.

Anyway, lucu banget di malam hari gini random nulis di blog. Setelah sekian lama nggak publish apapun dan membiarkan blog ini bersarang. Kira-kira, tahun 2026 bakal ada waktu buat bersihin sarang di blog ini dan kembali aktif nggak ya? We'll see..

Thank you for reading,
Xoxo